Pdm. Abraham Agus Susanta
Yohanes 17:4-5 “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya. Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada”.
Ini adalah doa terakhir dari pertanggunganjawab Yesus yang diutus oleh Bapa selama Dia berada di bumi dan Dia telah menyelesaikan apa yang diperintahkan kepadanya. Tanpa adanya pertanggunganjawab maka tidak akan ada kemuliaan. Gereja yang tidak ada pertanggunganjawab pasti tidak akan ada kemuliaan, pekerjaan yang tidak ada pertanggunganjawab juga pasti tidak akan ada kemuliaan. Maksud kemuliaan adalah kualitas. Yesus mempunyai fokus yaitu tanggungjawab dan akhirnya mencapai kemuliaan.
Salah satu tujuan utama Tuhan menciptaan manusia adalah untuk manusia bisa menyatakan kemuliaan Tuhan yang sudah diletakkan didalam hidup kita. Salah satu tanggungjawab utama adalah bagaimana cara kita bekerja, ibadah, melayani supaya kita bisa mencapai tujuan utama di dalam kemuliaan ini.
Yesus sukses sebagai perwakilanNya di bumi. Ada 2 prinsip penting yang diterapkan Yesus untuk hidup dalam Kerajaan Tuhan:
1. Hadirat Tuhan.
Ini adalah hal yang terpenting bagi manusia agar sukses sebagai perwakilanNya di bumi dan hal ini pun yang dilakukan Yesus ketika Dia berada di bumi. Di dalam Kej 2:15 ditunjukkan latar belakang mengapa hadirat Tuhan adalah yang terpenting bagi manusia :
• Manusia diciptakan dan ditempatkan di Taman Eden. Eden adalah “the spot of His presence” (titik pusat hadirat Tuhan). Dengan kata lain bahwa manusia itu untuk pertama kali yang dibutuhkan adalah hadirat Tuhan. Sama seperti ikan dan air yang tidak dapat dipisahkan begitu juga manusia dengan hadirat Tuhan. Hadirat Tuhan ini adalah nafas pertama dari kehidupan manusia. Jadi meskipun dia hidup secara harafiah tapi kalau dia tidak di dalam hadirat Tuhan, maka dalam pandangan Allah dia tidak hidup. Kalau kita hidup di luar hadirat Tuhan maka akan ada penyimpangan yang terjadi. Apabila seseorang ditempatkan di titik pusat hadirat Tuhan maka dia akan mengeluarkan hal-hal yang terbaik. Maksudnya ialah orang itu akan mengeluarkan kemampuan-kemampuan yang maksimal.
2. KemuliaanNya
Bagi Allah kemuliaan adalah segala-galanya. Tuhan tahu bagaimana cara menikmati apa yang dia punya yaitu dengan cara melepaskannya kepada anak-anakNya. Sebagai contoh saya mempunyai anak tapi kalau keberhasilan itu hanya berhenti pada diri saya maka itu berarti saya bodoh. Tapi yang benar saya bisa menikmati keberhasilan yang jauh lebih besar kalau saya melepaskan pada anak-anak saya. Apa yang saya punya saya lepaskan pada anak-anak saya dan lewat hal itu, pada akhirnya saya juga bisa menikmati bahkan lebih daripada itu saya bisa bersukacita. Oleh sebab itu “kingdom”diciptakan oleh Tuhan karena Dia berada di alam roh. Cara Tuhan untuk menikmati kerajaanNya adalah dengan memanifestasikannya kepada anak-anakNya di bumi. Karena ketika manusia lahir, Allah berkata “kuasailah bumi”.
Mzm 8: 4-5 Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat
Apa yang dimaksud dengan kemuliaan Tuhan? Pengertian asli dari “kemuliaan Tuhan” adalah berat dan bobot. Berat itu maksudnya “menekan” saat anda menerima kemuliaan Tuhan tersebut. Dalam Perjanjian Lama dikatakan apabila kemuliaan Tuhan itu datang maka mereka tidak dapat lagi berdiri tetapi rebah. Sedangkan bobot berbicara mengenai kualitas hidup. Jadi kalau kita tahu bahwa kita mempunyai kemuliaan Tuhan maka kita harus mengeluarkan kualitas hidup dan ini tidak terbatas hanya dalam ibadah tetapi dalam kehidupan sehari-hari. Ini yang akan dikatakan mempunyai nilai mewakili kemuliaan Tuhan. Kalau kita sebagai ayah maka baiklah kita menjadi ayah yang berkualitas, kalau kita adalah seorang tukang sapu maka kita akan menjadi tukang sapu yang berkualitas. Apa pun profesi kita baiklah semuanya dilakukan dengan kualitas. Kualitas tidak bisa ditipu dan hasil dari kualitas adalah promosi. Pada waktu ada tekanan maka yang keluar adalah kualitas yang sebenarnya.
Untuk mengeluarkan hidup yang berkualitas sebenarnya sangat sederhana saja karena Tuhan tidak meminta hal-hal yang kita tidak bisa kerjakan. Kita hanya perlu mencintai Tuhan dan hidup dalam hadirat Tuhan, saya pecaya dengan begitu kita akan mengeluarkan hal-hal yang berkualitas dan tidak akan ada kegagalan yang terjadi di dalam kehidupan kita.
Wednesday, July 9, 2008
Zeal in Worship
Pdt. Ronny Daud Simeon
Tema kita bulan ini adalah bergairah untuk Tuhan. Lalu bagaimana kita bisa mengalami kegairahan itu dan semakin meningkat dalam kehidupan setiap kita. Seringkali kita memulai dengan semangat tetapi dalam pemeliharaan hal tersebut tidaklah mudah untuk dilakukan. Untuk dapat mengalami penyembahan yang bergairah kita harus mempunyai penyembahan yang mempunyai karakteristik kerajaan. Kegairahan atau dalam bahasa Inggris dikatakan “enthusiasm” dan di artikan dari bahasa aslinya sebagai “full of God”. Orang yang penuh dengan Tuhan tidak perlu di dorong-dorong untuk melakukan penyembahan tetapi dia sendiri mempunyai dorongan dalam dalam dirinya untuk melakukan penyembahan.
Apakah penyembahan itu?
Ada penyempitan arti di dalam kata ini :
- Penyembahan identik dengan musik. Di dalam Alkitab, musik baru ditemukan pada waktu kelahiran Yubal (Kej 4:21), sedangkan pada waktu zaman Adam dan Hawa, musik yang ada adalah degup jantung mereka dan mereka tetap bisa menikmati Tuhan di dalam hadirat Tuhan. Tuhan rindu agar setiap kita masuk dalam atmosfir hadirat Tuhan.
- Anggapan bahwa lagu tempo cepat adalah pujian (“praise”) dan tempo lambat adalah penyembahan (“worship”). Di dalam Alkitab tidak ada perbedaan di dalam pujian dan penyembahan. Ada 4 unsur yang tidak dapat dipisahkan yaitu
o di dalam pujian terdapat unsur penyembahan, unsur doa, dan unsur ucapan syukur
o di dalam penyembahan terdapat unsur pujian, unsur doa, unsur ucapan syukur.
o di dalam doa terdapat unsur pujian, unsur penyembahan dan unsur ucapan syukur.
o di dalam ucapan syukur terdapat unsur pujian, unsur penyembahan dan unsur doa.
- Penyembahan yang “gak ngangkat”. Seringkali kita mendengar ungkapan seperti ini padahal kita sebenarnya memuji itu untuk Tuhan dan tidak ada hubungannya dengan pemimpin pujian yang “tidak mengangkat”.
Apa arti sesungguhnya dari penyembahan?
- Abodah (Perjanjian Lama). Di dalam Kej 2:5 ada kata “mengusahakan” yang di dalam bahasa Ibrani “aboda” (arti pertama adalah bekerja/mengusahakan sesuatu dan arti kedua adalah menyembah). Jadi pekerjaan kita adalah penyembahan kita. Seringkali kita berpikir penyembahan itu hanya melakukan kegiatan yang sifatnya rohani padahal kalau kita bekerja dengan jujur dan takut akan Tuhan itulah sebenarnya penyembahan kita. Kol 3:23 Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
- Proskuneo (Perjanjian Baru). Arti kata “proskuneo” adalah mencium dan diumpamakan seperti seekor anjing yang mencium tangan tuannya dengan bergairah ketika tuannya datang dari bepergian.
Prinsip-prinsip penyembahan yang benar:
- Yohanes 4:21 Kata Yesus kepadanya: "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Didalam penyembahan tidak terikat kepada satu liturgi atau aturan tetapi mengalir sesuai dengan pimpinan Roh Kudus. Didalam ayat tersebut diatas Yesus menunjukkan kepada perempuan itu bahwa penyembahan itu tidak tergantung pada lokasi (tempat di gunung atau pun di Yerusalem) tapi relasi (hubungan dengan Bapa si Surga). Tanpa relasi yang benar dengan Tuhan maka seluruh ibadah yang kita lakukan adalah sia-sia. Adam dan Hawa di Taman Eden menikmati hubungan yang indah dengan Tuhan dan Tuhan melarang mereka untuk makan buah yang berada di tengah Taman Eden itu kalau mereka melanggar mereka akan mati. Pada kenyataannya mereka makan dan tidak mati (secara harafiah) tetapi yang terjadi adalah putusnya hubungan antara mereka dengan Tuhan dan inilah yang disebut Tuhan dengan kata “mati”. Sebuah hubungan itu sangat penting di mata Tuhan sehingga kalau kita putus hubungan dengan Tuhan, itu sama dengan “mati’ dimata Tuhan.
2 hal yang hilang dari Adam dan Hawa ketika mereka jatuh dalam dosa yaitu:
- putus hubungan dengan Tuhan
- kehilangan “Kingdom of God’ (Kerajaan Allah)
2 inti Injil yang ditulis yaitu tujuan Yesus di muka bumi ini adalah:
- Memulihkan hubungan Bapa dengan manusia yang sudah hilang semenjak jaman Adam dan Hawa
- Memulihkan kerajaanNya di muka bumi yang juga hilang semenjak jaman Adam dan Hawa. Mat 6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu
Kalau hubungan ini sudah dikembalikan maka penyembahan kita akan bergairah (on fire).
- Yohanes 4:22 Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi.
Penyembahan itu harus mengenal persis siapa yang disembah. Pengenalan akan Tuhan itu sangat penting karena kalau salah dapat menentukan surga atau neraka. Matius 7:21-23
Pengenalan akan Tuhan (“ginosko”) itu sangatlah penting di mata Tuhan. “Ginosko” itu berarti mengenal akrab/intim seperti suami istri dan pengenalan seperti inilah yang diinginkan oleh Tuhan.
- Yohanes 4:23 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.
Ada banyak penyembah yang palsu sebagai contoh ketika Yesus baru lahir Herodes berkata kepada orang-orang majus untuk memberi tahu kepada dia dimana Yesus berada karena dia juga akan menyembah Dia. Apakah benar Herodes mau menyembah Yesus? Jawabannya adalah tidak karena Herodes berniat untuk membunuh Yesus. Contoh ke 2 ketika Yudas mencium Yesus di taman Getsemani, apakah ciuman itu berarti penyembahannya kepada Yesus? Jawabannya juga tidak karena Yudas menyerahkan Yesus dengan ciumannya.
Tema kita bulan ini adalah bergairah untuk Tuhan. Lalu bagaimana kita bisa mengalami kegairahan itu dan semakin meningkat dalam kehidupan setiap kita. Seringkali kita memulai dengan semangat tetapi dalam pemeliharaan hal tersebut tidaklah mudah untuk dilakukan. Untuk dapat mengalami penyembahan yang bergairah kita harus mempunyai penyembahan yang mempunyai karakteristik kerajaan. Kegairahan atau dalam bahasa Inggris dikatakan “enthusiasm” dan di artikan dari bahasa aslinya sebagai “full of God”. Orang yang penuh dengan Tuhan tidak perlu di dorong-dorong untuk melakukan penyembahan tetapi dia sendiri mempunyai dorongan dalam dalam dirinya untuk melakukan penyembahan.
Apakah penyembahan itu?
Ada penyempitan arti di dalam kata ini :
- Penyembahan identik dengan musik. Di dalam Alkitab, musik baru ditemukan pada waktu kelahiran Yubal (Kej 4:21), sedangkan pada waktu zaman Adam dan Hawa, musik yang ada adalah degup jantung mereka dan mereka tetap bisa menikmati Tuhan di dalam hadirat Tuhan. Tuhan rindu agar setiap kita masuk dalam atmosfir hadirat Tuhan.
- Anggapan bahwa lagu tempo cepat adalah pujian (“praise”) dan tempo lambat adalah penyembahan (“worship”). Di dalam Alkitab tidak ada perbedaan di dalam pujian dan penyembahan. Ada 4 unsur yang tidak dapat dipisahkan yaitu
o di dalam pujian terdapat unsur penyembahan, unsur doa, dan unsur ucapan syukur
o di dalam penyembahan terdapat unsur pujian, unsur doa, unsur ucapan syukur.
o di dalam doa terdapat unsur pujian, unsur penyembahan dan unsur ucapan syukur.
o di dalam ucapan syukur terdapat unsur pujian, unsur penyembahan dan unsur doa.
- Penyembahan yang “gak ngangkat”. Seringkali kita mendengar ungkapan seperti ini padahal kita sebenarnya memuji itu untuk Tuhan dan tidak ada hubungannya dengan pemimpin pujian yang “tidak mengangkat”.
Apa arti sesungguhnya dari penyembahan?
- Abodah (Perjanjian Lama). Di dalam Kej 2:5 ada kata “mengusahakan” yang di dalam bahasa Ibrani “aboda” (arti pertama adalah bekerja/mengusahakan sesuatu dan arti kedua adalah menyembah). Jadi pekerjaan kita adalah penyembahan kita. Seringkali kita berpikir penyembahan itu hanya melakukan kegiatan yang sifatnya rohani padahal kalau kita bekerja dengan jujur dan takut akan Tuhan itulah sebenarnya penyembahan kita. Kol 3:23 Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
- Proskuneo (Perjanjian Baru). Arti kata “proskuneo” adalah mencium dan diumpamakan seperti seekor anjing yang mencium tangan tuannya dengan bergairah ketika tuannya datang dari bepergian.
Prinsip-prinsip penyembahan yang benar:
- Yohanes 4:21 Kata Yesus kepadanya: "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Didalam penyembahan tidak terikat kepada satu liturgi atau aturan tetapi mengalir sesuai dengan pimpinan Roh Kudus. Didalam ayat tersebut diatas Yesus menunjukkan kepada perempuan itu bahwa penyembahan itu tidak tergantung pada lokasi (tempat di gunung atau pun di Yerusalem) tapi relasi (hubungan dengan Bapa si Surga). Tanpa relasi yang benar dengan Tuhan maka seluruh ibadah yang kita lakukan adalah sia-sia. Adam dan Hawa di Taman Eden menikmati hubungan yang indah dengan Tuhan dan Tuhan melarang mereka untuk makan buah yang berada di tengah Taman Eden itu kalau mereka melanggar mereka akan mati. Pada kenyataannya mereka makan dan tidak mati (secara harafiah) tetapi yang terjadi adalah putusnya hubungan antara mereka dengan Tuhan dan inilah yang disebut Tuhan dengan kata “mati”. Sebuah hubungan itu sangat penting di mata Tuhan sehingga kalau kita putus hubungan dengan Tuhan, itu sama dengan “mati’ dimata Tuhan.
2 hal yang hilang dari Adam dan Hawa ketika mereka jatuh dalam dosa yaitu:
- putus hubungan dengan Tuhan
- kehilangan “Kingdom of God’ (Kerajaan Allah)
2 inti Injil yang ditulis yaitu tujuan Yesus di muka bumi ini adalah:
- Memulihkan hubungan Bapa dengan manusia yang sudah hilang semenjak jaman Adam dan Hawa
- Memulihkan kerajaanNya di muka bumi yang juga hilang semenjak jaman Adam dan Hawa. Mat 6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu
Kalau hubungan ini sudah dikembalikan maka penyembahan kita akan bergairah (on fire).
- Yohanes 4:22 Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi.
Penyembahan itu harus mengenal persis siapa yang disembah. Pengenalan akan Tuhan itu sangat penting karena kalau salah dapat menentukan surga atau neraka. Matius 7:21-23
Pengenalan akan Tuhan (“ginosko”) itu sangatlah penting di mata Tuhan. “Ginosko” itu berarti mengenal akrab/intim seperti suami istri dan pengenalan seperti inilah yang diinginkan oleh Tuhan.
- Yohanes 4:23 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.
Ada banyak penyembah yang palsu sebagai contoh ketika Yesus baru lahir Herodes berkata kepada orang-orang majus untuk memberi tahu kepada dia dimana Yesus berada karena dia juga akan menyembah Dia. Apakah benar Herodes mau menyembah Yesus? Jawabannya adalah tidak karena Herodes berniat untuk membunuh Yesus. Contoh ke 2 ketika Yudas mencium Yesus di taman Getsemani, apakah ciuman itu berarti penyembahannya kepada Yesus? Jawabannya juga tidak karena Yudas menyerahkan Yesus dengan ciumannya.
Sunday, July 6, 2008
Thursday, June 19, 2008
Zeal in the Kingdom
SUARA GEMBALA
Pdm. Daniel J. Tanudjaja
Roma 12:11 “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan”. Di dalam terjemahan King James kata menyala-nyala/semangat dipakai kata “Fervent” / “Zeal” (terj.Amplified). Zeal dalam bahasa Grika “zeo” adalah memasak dengan api yang menyala-nyala. Saya berharap kalau kita mendengar kotbah maka Firman itu tidak hanya menjadi logos (Firman yang tertulis) saja tetapi dari “good idea” (ide yang baik) menjadi God’s idea (ide yang dari Tuhan) karena setiap orang yang dijamah Tuhan maka dia tidak akan sama lagi seperti sebelumnya. Dia menjadi manusia yang berbeda karena ketika jamahan Tuhan ada di dalam kehidupan kita maka kehidupan kita akan menjadi menggairahkan. Orang yang menyala-nyala buat Tuhan akan kelihatan dari gairahnya.
Roma 12:12 ini adalah jalan keluar bagi setiap pergumulan kita. Kalau kita tetap bersemangat, tetap bergairah, tetap berapi-api maka pergumulan apapun yang kita hadapi pada saat ini, saya percaya kita pasti akan menang. Masalah dalam keuangan/ekonomi kita atau dalam kehidupan keluarga kita tidak boleh memadamkan semangat kita di dalam Tuhan. Yesus adalah pribadi yang penuh dengan “zeal” (semangat menyala) sampai Dia berkata “CintaKu akan rumahMu menghanguskan Aku”.
Ada sebuah kisah seorang penginjil di China namanya Yun. Diceritakan setelah Yun bertemu dengan Tuhan Yesus, dia ingin untuk dapat melihat Alkitab. Lalu dia mendengar bahwa ada seorang penginjil yang mempunyai alkitab tetapi penginjil tersebut tinggal di tempat yang sangat jauh. Yun tidak putus asa demi melihat Alkitab, dia berjalan berhari-hari menuju ke rumah penginjil tersebut. Setelah tiba di depan rumah penginjil tersebut ternyata apa yang diimpikan tidak menjadi kenyataan karena penginjil itu tidak berani menunjukkan Alkitabnya kepada Yun karena jaman itu adalah jaman dimana kalau orang ketahuan mempunyai Alkitab maka dia akan dihukum. Penginjil itu hanya mengatakan agar dia berdoa supaya Tuhan memberikan Alkitab kepada dia. Akhirnya Yun pulang dengan tangan hampa. Sesampainya di rumah, Yun berdoa meminta Alkitab kepada Tuhan. Malam harinya, Yun bermimpi dia berjalan disebuah bukit dan ketika dia sedang kelelahan, dia bertemu dengan seorang tua dengan 2 orang yang lain yang membawa segerobak roti hangat dan menyuruh dia untuk makan. Dia makan roti yang masih hangat itu dan kemudian dia terbangun. Lalu dia mendengar ada ketukan di pintu rumahnya, ketika dia membuka pintu dilihatnya ada 2 orang yang dia lihat di mimpinya datang membawakan sebuah bungkusan untuk dia. 2 orang tersebut berkata bahwa mereka diutus oleh seorang penginjil untuk memberikan Alkitab itu kepada dia. Penginjil ini yang disuruh Tuhan untuk memberikan Alkitabnya kepada dia. Dan penginjil itu adalah orangtua yang menyuruh dia untuk makan roti.
Memang mujizat itu adalah sebuah misteri. Sering kita melihat orang yang disembuhkan Tuhan tetapi ada juga orang yang sudah berdoa tetapi penyakitnya tidak sembuh-sembuh juga. Salah satu kunci untuk mengalami mujizat Tuhan adalah “zeal”nya kita.
II Sam 6:12-16 contoh orang yang punya “zeal” khususnya dalam hal pujian dan penyembahan.
Disini kita lihat bagaimana orang yang mempunyai “zeal” kepada Tuhan, dikatakan dia menari-nari dan melompat-lompat tetapi dalam terjemahan lain dikatakan dia melompat-lompat dan berputar-putar.
Pdm. Daniel J. Tanudjaja
Gairah/Semangat dalam Kerajaan
Roma 12:11 “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan”. Di dalam terjemahan King James kata menyala-nyala/semangat dipakai kata “Fervent” / “Zeal” (terj.Amplified). Zeal dalam bahasa Grika “zeo” adalah memasak dengan api yang menyala-nyala. Saya berharap kalau kita mendengar kotbah maka Firman itu tidak hanya menjadi logos (Firman yang tertulis) saja tetapi dari “good idea” (ide yang baik) menjadi God’s idea (ide yang dari Tuhan) karena setiap orang yang dijamah Tuhan maka dia tidak akan sama lagi seperti sebelumnya. Dia menjadi manusia yang berbeda karena ketika jamahan Tuhan ada di dalam kehidupan kita maka kehidupan kita akan menjadi menggairahkan. Orang yang menyala-nyala buat Tuhan akan kelihatan dari gairahnya.
Roma 12:12 ini adalah jalan keluar bagi setiap pergumulan kita. Kalau kita tetap bersemangat, tetap bergairah, tetap berapi-api maka pergumulan apapun yang kita hadapi pada saat ini, saya percaya kita pasti akan menang. Masalah dalam keuangan/ekonomi kita atau dalam kehidupan keluarga kita tidak boleh memadamkan semangat kita di dalam Tuhan. Yesus adalah pribadi yang penuh dengan “zeal” (semangat menyala) sampai Dia berkata “CintaKu akan rumahMu menghanguskan Aku”.
Ada sebuah kisah seorang penginjil di China namanya Yun. Diceritakan setelah Yun bertemu dengan Tuhan Yesus, dia ingin untuk dapat melihat Alkitab. Lalu dia mendengar bahwa ada seorang penginjil yang mempunyai alkitab tetapi penginjil tersebut tinggal di tempat yang sangat jauh. Yun tidak putus asa demi melihat Alkitab, dia berjalan berhari-hari menuju ke rumah penginjil tersebut. Setelah tiba di depan rumah penginjil tersebut ternyata apa yang diimpikan tidak menjadi kenyataan karena penginjil itu tidak berani menunjukkan Alkitabnya kepada Yun karena jaman itu adalah jaman dimana kalau orang ketahuan mempunyai Alkitab maka dia akan dihukum. Penginjil itu hanya mengatakan agar dia berdoa supaya Tuhan memberikan Alkitab kepada dia. Akhirnya Yun pulang dengan tangan hampa. Sesampainya di rumah, Yun berdoa meminta Alkitab kepada Tuhan. Malam harinya, Yun bermimpi dia berjalan disebuah bukit dan ketika dia sedang kelelahan, dia bertemu dengan seorang tua dengan 2 orang yang lain yang membawa segerobak roti hangat dan menyuruh dia untuk makan. Dia makan roti yang masih hangat itu dan kemudian dia terbangun. Lalu dia mendengar ada ketukan di pintu rumahnya, ketika dia membuka pintu dilihatnya ada 2 orang yang dia lihat di mimpinya datang membawakan sebuah bungkusan untuk dia. 2 orang tersebut berkata bahwa mereka diutus oleh seorang penginjil untuk memberikan Alkitab itu kepada dia. Penginjil ini yang disuruh Tuhan untuk memberikan Alkitabnya kepada dia. Dan penginjil itu adalah orangtua yang menyuruh dia untuk makan roti.
Memang mujizat itu adalah sebuah misteri. Sering kita melihat orang yang disembuhkan Tuhan tetapi ada juga orang yang sudah berdoa tetapi penyakitnya tidak sembuh-sembuh juga. Salah satu kunci untuk mengalami mujizat Tuhan adalah “zeal”nya kita.
II Sam 6:12-16 contoh orang yang punya “zeal” khususnya dalam hal pujian dan penyembahan.
Disini kita lihat bagaimana orang yang mempunyai “zeal” kepada Tuhan, dikatakan dia menari-nari dan melompat-lompat tetapi dalam terjemahan lain dikatakan dia melompat-lompat dan berputar-putar.
Kingdom of Glory

SUARA GEMBALA
PDT. TIMOTIUS ARIFIN TEDJASUKMANA
Kerajaan Kasih Karunia
Didalam Injil Lukas 15 ada 3 perumpamaan yang terkenal dan yang terakhir yang paling terkenal. Kita tahu bahwa Allah kita adalah Allah yang memberikan kesempatan ke dua. Didalam Lukas 15:1-2 dikatakan bahwa Yesus seperti magnit bagi orang-orang yang terbuang tetapi orang-orang Farisi membenciNya. Justru yang marah kepada Yesus adalah orang-orang beragama karena bagi orang beragama, kemurahan Tuhan itu didapat melalui ibadah atau lewat perbuatan baik. Ketiga perumpamaan itu adalah:
1. Seorang sahabat yang baik
2. Seorang wanita yang mencari sampai ketemu (dirham yang hilang)
3. Anak yang terhilang.
Seorang pelukis Rembrant melukiskan seorang bangsawan yang memeluk seorang pengemis yang tidak lain adalah anaknya sendiri. Dalam lukisan itu digambarkan tangan sebelah kanan tangan pria dan tangan sebelah kiri adalah tangan wanita. Biasanya tangan pria adalah tangan yang menghajar dan tangan wanita itu yang membelainya. Perumpamaan ini sering juga dikatakan anak yang berfoya-foya (Asotos / ‘prodigal, extravagant, wastefulness’). Kita tahu ada sebuah kaos yang bertuliskan muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga. Ini adalah kata-kata yang menyesatkan karena Firman Tuhan mengatakan dalam Pengkotbah 11:9 “Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau KE PENGADILAN!”
Di dalam cerita Lukas 15:11 sebenarnya yang hilang bukan hanya yang bungsu tetapi yang sulung juga hilang. Seringkali bapa ini digambarkan sebagai Tuhan tetapi sebenarnya bapa ini adalah gambaran orang percaya. Anak bungsu adalah gambaran orang yang berdosa terang-terangan sedangkan anak sulung adalah gambaran orang yang berdosa dengan sembunyi-sembunyi (munafik).
Ketika engkau mulai kembali ke rumah Bapa, maka pesta pun dimulai.
Di dalam Lukas 15:29-30 anak sulung ini marah dan berkata kepada ayahnya “Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia”. Apa yang dikatakan oleh anak sulung ini sebenarnya tidak sesuai dengan terjemahan aslinya karena terjemahan bahasa Indonesia masih terlalu halus untuk didengar. Di dalam terjemahan aslinya dikatakan:
1. “Lo!”
Hei lihat, apa kamu buta,
2. “These many years I have been serving you (as slaves)”
sudah bertahun-tahun aku menjadi budakmu (doulos = budak belian) / aku telah engkau perbudak,
3. “I never transgressed your commandment at any time”
tidak pernah aku melanggar peraturanmu sekalipun, (dia menganggap dirinya begitu sempurna sehingga tidak pernah melakukan pelanggaran sama sekali)
4. “You never gave me a young goat, that I might make merry with my friends.
‘But as soon as this son of yours came”,
kamu (Lo) belum pernah memberikan anak kambing untuk aku bersukacita dengan teman-temanku, baru saja anakmu (dia sendiri merasa bahwa dia bukan anak bapanya dan dia juga tidak panggil adikku), (dia menuduh bahwa ayahnya tidak bermurah hati kepadanya karena anak kambing sebenarnya adalah tingkatan pemberian yang paling rendah)
5. “who has devoured your livelihood with harlots, you killed the fatted calf for him.”
yang baru saja menghabiskan seluruh penghidupanmu (sebab harta itu adalah bios) dengan pelacur-pelacur, engkau menyembelih lembu tambun buat dia”
Tetapi didalam ayat 31 ayahya menjawab: …. “Anakku (teknon), engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu”. Kepada anak yang kurang ajar, bapa ini memanggil teknon (anak kesayangan). Banyak pengkotbah yang menggambarkan bapa ini gambaran dari Tuhan, anak sulung adalah orang yang sudah diselamatkan tetapi karakternya kurang baik dan anak bungsu adalah orang berdosa, padahal sebenarnya kedua anak ini terhilang. Kalau kita buat perbandingan antara anak sulung dan anak bungsu: Anak sulung – dia tidak menghormati bapanya, dia memanggil kamu kepada bapanya ; Anak bungsu – masih memanggil bapa.
Didalam Ulangan 21:18-21 dikatakan kalau ada anak yang kurang ajar maka ayahnya akan membawa dia ke tua-tua dan anak itu akan dirajam batu sampai mati. Bapa ini tahu kalau dia tidak mengabulkan maka ketika anaknya keluar dari rumahnya, dia akan mati dirajam batu oleh massa. Jadi bapanya memberikan hak waris 1/3 bagian kepada anak bungsu dan 2/3 kepada anak sulung. Hak waris yang diberikan ini adalah harta mulai turun temurun tetapi anak bungsu ini tetap saja tidak menghargainya. Bapa ini sangatlah murah hati ketika anaknya sadar bahwa pegawai ayahnya masih lebih baik hidupnya daripada dia, maka dia meminta kepada ayahnya untuk menjadi buruh harian (Misthios). Ini adalah tingkatan yang paling rendah. Tetapi ketika bapa itu melihat anaknya, dia berlari dan memeluk serta menciuminya, dia tidak perduli bagaimana keadaan anaknya yang mungkin masih bau. Seorang bapa akan bersukacita kalau anaknya bertobat.
Gambaran bapa, anak sulung dan anak bungsu ini adalah gambaran kita. Sebagai seorang bapa rohani, kita harus bisa berkata teknon kepada anak rohani yang mungkin sudah berlaku kurang ajar ; kalau kondisi kita saat ini sama seperti anak sulung atau pun anak bungsu, baiklah kita bersikap seperti anak bungsu yaitu kembali kepada bapa dan meminta pengampunan. Apa yang diberikan bapa kepada anaknya yang bungsu ini:
1. “Sandal of SONSHIP” (sandal keputraan/pewaris)
2. “Ring of AUTHORITY” (cincin otoritas)
3. “Robe of RIGHTEOUSNESS / HONOR” (jubah kebenaran)
Jubah dan perlengkapannya ini dipakaikan kepada si bungsu di luar kota dan bukan didalam rumah. Alasannya adalah supaya kalau dia masuk ke dalam kota tidak ada satu orang pun yang akan merajam dia dengan batu. Yesus ketika dibunuh juga di luar kota.
Bahasa yang dipakai oleh bapa adalah bahasa yang dipakai di Taman Eden yaitu
Love Kasih
Grace Anugerah
Mercy Rahmat
Dan bapa ini juga memotong lembu tambun, ini adalah lembu dengan kualitas yang paling baik dan paling mahal, dan mengundang seluruh kota untuk ikut dalam pesta ini. Bagaimana dengan anak yang sulung? Ketika itu, dia berada di ladang dan begitu terkejut melihat adanya pesta yang luar biasa yang diselenggarakan untuk adiknya. Reaksi dari anak sulung ini adalah marah (orgizo/murka) tetapi yang dilakukan oleh bapanya adalah dia keluar dan membujuk anaknya yang sedang marah tadi. Ini adalah bukti bahwa bapanya tidak pilih kasih, anak yang sulung dan anak yang bungsu sama-sama dicintai.
Cerita ini diputus begitu saja, dan kita diharapkan untuk meneruskan cerita tersebut. Kita percaya kebaikan Tuhan akan menuntun orang dalam pertobatan, Tuhan selalu menuntun orang dengan kebaikanNya.
Wednesday, June 4, 2008
Kingdom Of Grace
1 JUNI 2008
Pdt. Timotius Arifin Tedjasukmana
Didalam Injil Lukas 15 ada 3 perumpamaan yang terkenal dan yang terakhir yang paling terkenal. Kita tahu bahwa Allah kita adalah Allah yang memberikan kesempatan ke dua, inilah yang dinyatakan dalam bagian yang terakhir. Di dalam Lukas 15:1-2 dikatakan bahwa Yesus seperti magnit bagi orang-orang yang terbuang dan orang-orang Farisi benci hal itu. Kita lihat di sini yang marah kepada Yesus adalah orang-orang beragama. Karena bagi orang beragama, kemurahan Tuhan itu didapat melalui ibadah atau lewat perbuatan baik.
Ketiga perumpamaan dalam Lukas 15:
1. Domba yang hilang
2. Seorang wanita yang mencari dirham yang hilang sampai ketemu
3. Anak yang terhilang.
Rembrant, seorang pelukis, melukis tentang bangsawan yang memeluk seorang pengemis yang tidak lain adalah anaknya sendiri. Dalam lukisan itu digambarkan tangan sebelah kanan adalah tangan seorang pria dan tangan sebelah kiri adalah tangan wanita. Biasanya tangan pria adalah tangan yang menghajar dan tangan wanita itu yang membelainya.
Dalam perumpamaan ini sering juga dikatakan anak yang bungsu itu berfoya-foya (Asotos / ‘prodigal, extravagant, wastefulness’). Kita tahu ada sebuah kaos yang bertuliskan muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga. Ini adalah kata-kata yang menyesatkan, karena Firman Tuhan mengatakan dalam Pengkotbah 11:9 “Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau KE PENGADILAN!”
Di dalam cerita Lukas 15:11 sebenarnya yang hilang bukan hanya yang bungsu tetapi yang sulung juga hilang. Seringkali bapa ini digambarkan sebagai Tuhan tetapi sebenarnya bapa ini adalah juga gambaran orang percaya. Anak bungsu adalah gambaran orang yang berdosa terang-terangan sedangkan anak sulung adalah gambaran orang yang berdosa dengan sembunyi-sembunyi (munafik).
Tetapi ketika engkau mulai kembali ke rumah Bapa, maka pesta pun dimulai.
Di dalam Lukas 15:29-30 anak sulung ini marah (melihat pesta itu) dan berkata kepada ayahnya “Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia”. Apa yang dikatakan oleh anak sulung ini sebenarnya tidak sesuai dengan terjemahan aslinya karena terjemahan bahasa Indonesia masih terlalu halus untuk didengar. Di dalam terjemahan aslinya dikatakan:
1. “Lo!”
Secara “kasar” ungkapan ini berkata: “Hei lihat, apa kamu buta”,
2. “These many years I have been serving you (as slaves)”.
Kata “serving” diterjemahkan dari istilah “doulos”
sudah bertahun-tahun aku menjadi budakmu (doulos = budak belian) / aku telah engkau perbudak,
3. “I never transgressed your commandment at any time”
tidak pernah aku melanggar peraturanmu sekalipun, (dia menganggap dirinya begitu sempurna sehingga tidak pernah melakukan pelanggaran sama sekali)
4. “You never gave me a young goat, that I might make merry with my friends.
‘But as soon as this son of yours came”,
Kamu belum pernah memberikan anak kambing untuk aku bersukacita dengan teman-temanku, baru saja anakmu (dia sendiri merasa bahwa dia bukan “anak bapanya” dan dia juga tidak panggil “adikku”). Dia menuduh bahwa ayahnya tidak bermurah hati kepadanya karena anak kambing sebenarnya adalah tingkatan pemberian yang paling rendah.
5. “who has devoured your livelihood with harlots, you killed the fatted calf for him.”
yang baru saja menghabiskan seluruh penghidupanmu (sebab harta itu adalah “bios”) dengan pelacur-pelacur, engkau menyembelih lembu tambun buat dia”
Tetapi didalam ayat 31 ayahya menjawab: …. “Anakku (teknon), engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu”. Kepada anak yang kurang ajar, bapa ini memanggil teknon (anak kesayangan). Banyak pengkotbah yang menggambarkan bapa ini sebagai gambaran dari Tuhan. Gambaran anak sulung adalah orang yang sudah diselamatkan tetapi karakternya kurang baik dan anak bungsu adalah orang berdosa. Padahal sebenarnya kedua anak ini terhilang. Kalau kita buat perbandingan di antara keduanya: Anak sulung sama sekali tidak menghormati bapanya (memanggil kamu kepada bapanya), sementara anak bungsu masih memanggil bapa.
Dalam Kitab Ulangan 21:18-21 dikatakan kalau ada anak yang kurang ajar maka ayahnya akan membawa dia kepada tua-tua dan anak itu akan dirajam batu sampai mati. Bapa ini tahu kalau dia tidak mengabulkan permintaan anaknya, maka ketika anaknya pergi dari rumah, dia akan dirajam batu oleh massa. Itu sebabnya bapanya memberikan hak waris 1/3 bagian kepada anak bungsu, sebab yang 2/3 adalah hak anak sulung. Hak waris yang diberikan ini adalah harta turun temurun tetapi anak bungsu ini tidak menghargainya. Dia menghabiskan harta ini dengan berfoya-foya sampai dia sendiri jatuh miskin dan tidak dapat makan.
Bapa ini sangat murah hati, anaknya sadar bahkan pegawai ayahnya masih lebih baik hidupnya daripada dia. Karena itu dia meminta kepada ayahnya untuk menjadi buruh harian (“Misthios”). Ini adalah tingkatan yang paling rendah dalam pekerjaan. Tetapi ketika bapa itu melihat anaknya, dia berlari dan memeluk serta menciuminya, dia tidak perduli bagaimana keadaan anaknya yang mungkin masih bau. Seorang bapa akan bersukacita kalau anaknya bertobat.
Gambaran bapa, anak sulung dan anak bungsu ini adalah gambaran kita. Sebagai seorang bapa rohani, kita harus bisa berkata “teknon” kepada anak rohani yang mungkin sudah berlaku kurang ajar. Kalau kondisi kita saat ini sama seperti anak sulung atau pun anak bungsu, baiklah kita bersikap seperti anak bungsu yaitu kembali kepada bapa dan meminta pengampunan. Apa yang diberikan bapa kepada anaknya yang bungsu ini:
1. “Sandal of SONSHIP” (kasut/sandal keputraan/pewaris)
2. “Ring of AUTHORITY” (cincin otoritas)
3. “Robe of RIGHTEOUSNESS / HONOR” (jubah kebenaran/kehormatan)
Jubah dan perlengkapannya ini dipakaikan kepada si bungsu di luar kota dan bukan didalamnya. Alasannya adalah supaya kalau dia masuk ke dalam kota tidak ada satu orang pun yang akan merajam dia dengan batu. Yesus ketika disalib juga dilakukan di luar kota.
Bahasa yang dipakai oleh bapa itu adalah bahasa yang dipakai di Taman Eden yaitu
Love Kasih
Grace Anugerah
Mercy Rahmat
Dan bapa ini juga memotong lembu tambun, ini adalah lembu dengan kualitas yang paling baik dan paling mahal, serta mengundang seluruh kota untuk ikut dalam pesta itu. Bagaimana dengan anak yang sulung? Ketika itu, dia berada di ladang dan begitu terkejut melihat adanya pesta yang luar biasa yang diselenggarakan untuk adiknya. Reaksi dari anak sulung ini adalah marah (orgizo/murka) tetapi yang dilakukan oleh bapanya adalah dia keluar dan membujuk anaknya yang sedang marah tadi. Ini adalah bukti bahwa bapanya tidak pilih kasih, anak yang sulung dan anak yang bungsu sama-sama dicintai.
Cerita ini diputus begitu saja, dan kita diharapkan untuk meneruskan cerita tersebut (meskipun didalam catatan yang lain dikatakan bapa itu dipukuli sampai mati oleh anaknya yang sulung). Kita percaya kebaikan Tuhan akan menuntun orang dalam pertobatan, Tuhan selalu menuntun orang dengan kebaikanNya. Puji Nama Tuhan.
Pdt. Timotius Arifin Tedjasukmana
Kerajaan Kasih Karunia
Didalam Injil Lukas 15 ada 3 perumpamaan yang terkenal dan yang terakhir yang paling terkenal. Kita tahu bahwa Allah kita adalah Allah yang memberikan kesempatan ke dua, inilah yang dinyatakan dalam bagian yang terakhir. Di dalam Lukas 15:1-2 dikatakan bahwa Yesus seperti magnit bagi orang-orang yang terbuang dan orang-orang Farisi benci hal itu. Kita lihat di sini yang marah kepada Yesus adalah orang-orang beragama. Karena bagi orang beragama, kemurahan Tuhan itu didapat melalui ibadah atau lewat perbuatan baik.
Ketiga perumpamaan dalam Lukas 15:
1. Domba yang hilang
2. Seorang wanita yang mencari dirham yang hilang sampai ketemu
3. Anak yang terhilang.
Rembrant, seorang pelukis, melukis tentang bangsawan yang memeluk seorang pengemis yang tidak lain adalah anaknya sendiri. Dalam lukisan itu digambarkan tangan sebelah kanan adalah tangan seorang pria dan tangan sebelah kiri adalah tangan wanita. Biasanya tangan pria adalah tangan yang menghajar dan tangan wanita itu yang membelainya.
Dalam perumpamaan ini sering juga dikatakan anak yang bungsu itu berfoya-foya (Asotos / ‘prodigal, extravagant, wastefulness’). Kita tahu ada sebuah kaos yang bertuliskan muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga. Ini adalah kata-kata yang menyesatkan, karena Firman Tuhan mengatakan dalam Pengkotbah 11:9 “Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau KE PENGADILAN!”
Di dalam cerita Lukas 15:11 sebenarnya yang hilang bukan hanya yang bungsu tetapi yang sulung juga hilang. Seringkali bapa ini digambarkan sebagai Tuhan tetapi sebenarnya bapa ini adalah juga gambaran orang percaya. Anak bungsu adalah gambaran orang yang berdosa terang-terangan sedangkan anak sulung adalah gambaran orang yang berdosa dengan sembunyi-sembunyi (munafik).
Tetapi ketika engkau mulai kembali ke rumah Bapa, maka pesta pun dimulai.
Di dalam Lukas 15:29-30 anak sulung ini marah (melihat pesta itu) dan berkata kepada ayahnya “Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia”. Apa yang dikatakan oleh anak sulung ini sebenarnya tidak sesuai dengan terjemahan aslinya karena terjemahan bahasa Indonesia masih terlalu halus untuk didengar. Di dalam terjemahan aslinya dikatakan:
1. “Lo!”
Secara “kasar” ungkapan ini berkata: “Hei lihat, apa kamu buta”,
2. “These many years I have been serving you (as slaves)”.
Kata “serving” diterjemahkan dari istilah “doulos”
sudah bertahun-tahun aku menjadi budakmu (doulos = budak belian) / aku telah engkau perbudak,
3. “I never transgressed your commandment at any time”
tidak pernah aku melanggar peraturanmu sekalipun, (dia menganggap dirinya begitu sempurna sehingga tidak pernah melakukan pelanggaran sama sekali)
4. “You never gave me a young goat, that I might make merry with my friends.
‘But as soon as this son of yours came”,
Kamu belum pernah memberikan anak kambing untuk aku bersukacita dengan teman-temanku, baru saja anakmu (dia sendiri merasa bahwa dia bukan “anak bapanya” dan dia juga tidak panggil “adikku”). Dia menuduh bahwa ayahnya tidak bermurah hati kepadanya karena anak kambing sebenarnya adalah tingkatan pemberian yang paling rendah.
5. “who has devoured your livelihood with harlots, you killed the fatted calf for him.”
yang baru saja menghabiskan seluruh penghidupanmu (sebab harta itu adalah “bios”) dengan pelacur-pelacur, engkau menyembelih lembu tambun buat dia”
Tetapi didalam ayat 31 ayahya menjawab: …. “Anakku (teknon), engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu”. Kepada anak yang kurang ajar, bapa ini memanggil teknon (anak kesayangan). Banyak pengkotbah yang menggambarkan bapa ini sebagai gambaran dari Tuhan. Gambaran anak sulung adalah orang yang sudah diselamatkan tetapi karakternya kurang baik dan anak bungsu adalah orang berdosa. Padahal sebenarnya kedua anak ini terhilang. Kalau kita buat perbandingan di antara keduanya: Anak sulung sama sekali tidak menghormati bapanya (memanggil kamu kepada bapanya), sementara anak bungsu masih memanggil bapa.
Dalam Kitab Ulangan 21:18-21 dikatakan kalau ada anak yang kurang ajar maka ayahnya akan membawa dia kepada tua-tua dan anak itu akan dirajam batu sampai mati. Bapa ini tahu kalau dia tidak mengabulkan permintaan anaknya, maka ketika anaknya pergi dari rumah, dia akan dirajam batu oleh massa. Itu sebabnya bapanya memberikan hak waris 1/3 bagian kepada anak bungsu, sebab yang 2/3 adalah hak anak sulung. Hak waris yang diberikan ini adalah harta turun temurun tetapi anak bungsu ini tidak menghargainya. Dia menghabiskan harta ini dengan berfoya-foya sampai dia sendiri jatuh miskin dan tidak dapat makan.
Bapa ini sangat murah hati, anaknya sadar bahkan pegawai ayahnya masih lebih baik hidupnya daripada dia. Karena itu dia meminta kepada ayahnya untuk menjadi buruh harian (“Misthios”). Ini adalah tingkatan yang paling rendah dalam pekerjaan. Tetapi ketika bapa itu melihat anaknya, dia berlari dan memeluk serta menciuminya, dia tidak perduli bagaimana keadaan anaknya yang mungkin masih bau. Seorang bapa akan bersukacita kalau anaknya bertobat.
Gambaran bapa, anak sulung dan anak bungsu ini adalah gambaran kita. Sebagai seorang bapa rohani, kita harus bisa berkata “teknon” kepada anak rohani yang mungkin sudah berlaku kurang ajar. Kalau kondisi kita saat ini sama seperti anak sulung atau pun anak bungsu, baiklah kita bersikap seperti anak bungsu yaitu kembali kepada bapa dan meminta pengampunan. Apa yang diberikan bapa kepada anaknya yang bungsu ini:
1. “Sandal of SONSHIP” (kasut/sandal keputraan/pewaris)
2. “Ring of AUTHORITY” (cincin otoritas)
3. “Robe of RIGHTEOUSNESS / HONOR” (jubah kebenaran/kehormatan)
Jubah dan perlengkapannya ini dipakaikan kepada si bungsu di luar kota dan bukan didalamnya. Alasannya adalah supaya kalau dia masuk ke dalam kota tidak ada satu orang pun yang akan merajam dia dengan batu. Yesus ketika disalib juga dilakukan di luar kota.
Bahasa yang dipakai oleh bapa itu adalah bahasa yang dipakai di Taman Eden yaitu
Love Kasih
Grace Anugerah
Mercy Rahmat
Dan bapa ini juga memotong lembu tambun, ini adalah lembu dengan kualitas yang paling baik dan paling mahal, serta mengundang seluruh kota untuk ikut dalam pesta itu. Bagaimana dengan anak yang sulung? Ketika itu, dia berada di ladang dan begitu terkejut melihat adanya pesta yang luar biasa yang diselenggarakan untuk adiknya. Reaksi dari anak sulung ini adalah marah (orgizo/murka) tetapi yang dilakukan oleh bapanya adalah dia keluar dan membujuk anaknya yang sedang marah tadi. Ini adalah bukti bahwa bapanya tidak pilih kasih, anak yang sulung dan anak yang bungsu sama-sama dicintai.
Cerita ini diputus begitu saja, dan kita diharapkan untuk meneruskan cerita tersebut (meskipun didalam catatan yang lain dikatakan bapa itu dipukuli sampai mati oleh anaknya yang sulung). Kita percaya kebaikan Tuhan akan menuntun orang dalam pertobatan, Tuhan selalu menuntun orang dengan kebaikanNya. Puji Nama Tuhan.
Subscribe to:
Posts (Atom)





